Kejahatan Seksual Terhadap Anak Terus Meningkat

*89 Juta Orang Mengakses Konten Pornografi

Ketua KPAI Arist Merdeka Sirait menjadi pembicara pada Workshop Hari Anak Nasional 2017 di Hall La Tansa Mashiro.(Foto: M Yusuf)

LEBAK – Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi berdampak terhadap prilaku masyarakat di Indonesia. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dari 250 juta jiwa penduduk Indonesia, 89 juta jiwa diantaranya mengakses konten pornografi.

Ketua KPAI Arist Merdeka Sirait mengatakan, jumlah kasus kejahatan seksual terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Penyebabnya, yaitu merajalelanya pengaruh tontonan pornografi dan porno aksi yang mudah diakses masyarakat. Kedua, pornografi dan porno aksi telah menjadi adiksi dan penyakit yang sulit disembuhkan. Ketiga, runtuhnya ketahanan keluarga atas nilai-nilai agama, sosial, etika moral, serta degradasi nilai solidaritas antar sesama.

Selanjutnya, pengaruh gaya hidup yang tidak diimbangi dengan kemampuan ekonomi. Kelima, budaya permisif, budaya meniru, dan sikap feodal.

Baca juga:
Pocil Kalimaya Polres Lebak Tampil Memukau di Jakarta
SDT Al-Qudwah Salurkan Bantuan Untuk Palestina
Kota Baru Maja Bakal Tampung 1,2 Juta Jiwa

“Pada 2014, terdapat 3.726 kasus kejahatan terhadap anak. 47 persen dari kasus tersebut merupakan kejahatan seksual terhadap anak,” kata Arist saat menjadi pembicara pada acara Workshop Hari Anak Nasional (HAN) 2017 di Hall La Tansa Mashiro, Kamis (23/11).

Arist mengajak kepada semua elemen masyarakat untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak. Untuk ini, dia meminta kepada keluarga dan masyarakat agar membentengi anak-anaknya dengan nilai-nilai agama dan ahlak yang mulai. Jika generasi muda di Lebak telah dibentengi, maka mereka tidak akan tertarik mengakses konten pornografi di internet.

“Dibutuhkan upaya bersama untuk mencegah terjadinya kejahatan terhadap anak. Keluarga, masyarakat, dan guru, harus bersinergi mengampanyekan penggunaan internet sehat,” paparnya.

Menurutnya, kasus kekerasan terhadap anak merupakan fenomena gunung es. Berbagai kasus kekerasan terhadap anak bermunculan dimana-mana. Kondisi tersebut jelas merisaukan dan meresahkan masyarakat di Indonesia.

“Kita enggak ingin, anak sebagai generasi penerus negeri ini menjadi korban kejahatan seksual,” tukasnya.(M Yusuf)