Persoalan Ekonomi Jadi Pemicu Gangguan Jiwa di Lebak

Penderita gangguan jiwa dipasung.(ilustrasi)

LEBAK – Hasil pendataan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak, terdapat 803 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kota Seribu Madrasah. Ratusan orang tersebut mayoritas diakibatkan faktor ekonomi, depresi, da nada juga karena faktor keturunan.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Tidak Menular pada Dinas Kesehatan Kabupaaten Lebak Nana Suhana mengatakan, jumlah warga sakit jiwa di Kabupaten Lebak sebetulnya tidak hanya 803 orang, tapi lebih dari 1.000 orang. Hal ini karena belum semua puskesmas menyerahkan laporan mengenai data ODGJ di masing-masing puskesmas.

“Dari 803 warga sakit jiwa, sebanyak 483 diantaranya dinyatakan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Sedangkan sisanya mengalami sakit jiwa ringan,” kata Nana kepada Orbit Banten, Selasa (21/11).

Menurutnya, dari 44 puskesmas, baru 34 puskesmas yang menyampaikan laporan kepada Dinkes Lebak. Dari 803 jiwa ODGJ, sebanyak 286 orang diantaranya menjalani perawatan lanjutan di puskesmas dan rumah sakit.

“Kemudian sebanyak 52 orang lainnya dipasung di bawah pengawasan puskesmas yang artinya secara berkala ditengok untuk diberikan obat. Sisanya lagi menjalani pengobatan kepada dukun dan pengobatan alternatif,” katanya.

Nana menjelaskan, ODGJ yang berobat kepada dukun masih tinggi. Pihak keluarga menduga sakit jiwa yang diderita kerabatnya akibat gangguan jin dan setan dan menganggap orang sakit jiwa itu sebagai aib bagi keluarga.

“Proses penyembuhan ODGJ bisa dilakukan secara medis dengan dukungan dari keluarga,” ungkapnya.(Deni Sopandi)