Korban Asusila di Leuwidamar Datangi Mapolres Lebak

Ilustrasi asusila. (foto/jogjapolitan).

LEBAK,- Seorang santriawati, SNH (18) warga Kampung Kalang Jaya, Desa Cisimeut, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten didampaingi keluarga beserta tim kuasa hukum dari Pusat Bantuan Hukum Perhimpunan Advokat Indonesia (PBH – Peradi) Kabupaten Lebak mendatangi Mapolres Lebak, Senin (31/12/2018).

Kedatangan korban SNH (18) ke Mapolres Lebak bersama tim kuasa hukumnya, bermaksud melaporkan perbuatan asusila yang diduga dilakukan AA selaku pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) di Leuwidamar tempat korban menimba ilmu.

Ditemui di Mapolres Lebak, SNH menuturkan dugaan perbuatan asusila yang dilakukan AA itu terjadi sejak tahun 2017 dan tahun 2018.

“Saya masuk pesantren tahun 2015, cuma kejadian pertama kali di tahun 2017 dan berlanjut di tahun 2018. Dia itu (pelaku,-red) suka masuk ke kamar (kobong) santri. Saya dipaksa, dan diancam oleh pelaku jangan membocorkan masalah ini. Jika sampai bocor akan tahu akibatnya kata dia (pelaku). Ya Saya takut, dia itu kan guru saya jadi saya enggak cerita ke orang tua saya, kerena keluarga saya keluarga enggak mampu,” kata SNH di Mapolres Lebak.

Menurutnya, perbuatan asusila yang dilakukan pelaku AA, SNH mengakui sudah lima kali.

“Kadang seminggu sekali, dua minggu sekali dan sebulan sekali, enggak rutin sih,” terang SNH.

Sementara itu, Dimas Maulana SH kuasa hukum SNH dari PBH Peradi Lebak mengatakan, kedatangan tim kuasa hukum PBH Peradi ke Mapolres Lebak untuk melaporkan dugaan tindak pidana asusila yang diduga dilakukan AA oknum pimpinan ponpes itu kepada kliennya SNH.

“Kita datang ke Mapolres ini untuk melaporkan dugaan tindak pidana asusila terhadap klien kami SNH. Kita kesini juga bersama pihak keluarganya,” ujar Dimas.

Dimas menjelaskan, setelah sebelumnya tim PBH menghadap ke penyidik Unit PPA, kemudian di arahkan untuk ke Unit II di Mapolres Lebak. 

Setelah bertemu dengan penyidik di Unit II kata Dimas, pihaknya kemudian di arahkan untuk ke penyidik di Mapolsek Leuwidamar, sebab kata Dimas, permasalahan perkara itu seusai keterangan yang peroleh bersama tim PBH, sudah ada Berita Acara Pemerikasaan (BAP) di Polsek tersebut.

“Maka kami langsung ke Mapolsek Leuwidamar, katanya sudah ada BAP soal perkara tersebut di Mapolsek Leuwidamar. Kami datang ke sana (Polsek) tidak bertemu dengan Kapolsek dan Kanit Reskeimnya. Informasi yang kami dapat dari anggota polisi yang piket jaga, Kapolsek dan Kanit Reskrim Polsek Leuwidamar sedang ada kegiatan ke wilayah Kecamatan Sobang,” katanya.

Kendati demikian, tim PBH Peradi Kabupaten Lebak mengaku sudah menitipkan pesan kepada anggota piket jaga di Mapolsek Leuwidamar agar Kapolsek atau Kanit Reskrim dapat membangun komunikasi dengan kuasa hukum korban (SNH).

“Kita sudah berikan copy surat kuasa korban ke PBH Peradi Lebak dan kartu nama kami agar Kapolsek dapat berkomunikasi dengan kami. Jadi, kalau memang belum ada laporan polisi secara resmi terkait kasus ini, maka kami akan membuat laporan dugaan kasus Asusila ini. Kalau sudah ada laporan dari korban sebelumnya dan katanya ada BAP peristiwa yang terjadi tahun 2018 saja, maka kami akan tambahkan BAP soal kejadian tahun 2017,” papar Dimas.

Dikonfimasi, Aiptu Onot Hartono Kanit Reskrim Polsek Leuwidamar mengungkapkan, bahwa pihaknya menyebut tidak ada laporan polisi (LP) dan berita acara pemeriksaan (BAP) terkait perkara tersebut.

Menurutnya, sampai saat penyidik polsek Leuwidamar belum menerima laporan polisi secara resmi terkait perkara itu. Kendati demikian, Onot mengatakan pihaknya sudah berinisiatif melakukan interogasi terhadap korban karena adanya pengaduan.

“Pengakuanya itu kan bulan Agustus, kalau bulan Agustus usianya sudah 18 dan masuk delik aduan perzinahan. Kalau perzinahan kan dua-duanya masuk, kalau yang tahun 2017 kejadiannya apa kita juga enggak tahu, karena pengakuanya kejadiannya Agustus 2018. Enggak ada LP, kalau ada BAP berarti sudah penyidikan dong,”tegasnya. 

Sementara itu, hingga berita terbit, wartawan belum melakukan konfirmasi kepada terduga pelaku. (Riz/Deni).