Konfercab Ke-III HMI Lebak, Bukan Semata Menentukan Nahkoda Baru

Oleh : Eza Yayang Firdaus
(Wakil Sekertaris Bidang (Wasekbid) Pembinaan Anggota (PA)
HMI Cabang Lebak Periode 2019-2020)

Dalam hal ini HMI adalah salah satu organisasi tertua di Indonesia dalam tataran Organisasi Kemahasiswaan dan Pemuda (OKP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berdiri genap 74 tahun, dan Cabang Lebak genap 11 tahun pada bulan februari lalu. Serta telah membuktikan eksistensinya sebagai salah satu organisasi pemuda di Lebak yang turut berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah dengan menjalankan peran sebagai organisasi mahasiswa melalui pemberdayaan masyarakat serta transformasi pola pikir kepada daerah.

Tepat pada tanggal 09 April 2021 nanti HMI Cabang Lebak akan kembali menggelar konferensi cabang (Konfercab) yang ke III, sebelumnya dikenal dengan istilah musyawarah cabang (Muscab) karena prosesi dari mulai pendirian cabang persiapan hingga cabang definitif.

Dengan adanya agenda konferensi ini berarti sebagai pertanda dimana sebuah kepengurusan cabang dalam hal ini yang berada di tingkatan Kota atau Kabupaten telah berakhir, dimana sosok ketua umum sebagai pucuk pimpinan tertinggi dalam garis struktural di HMI paling sering disoroti oleh sejumlah kader ataupun pengurus aktif.

Padahal sejatinya gelaran Rapat Anggota Komisariat (RAK), Konferensi Cabang (Konfercab), Musyawarah Daerah (Musda) Badan koordinasi (Badko), sampai Kongres Pengurus Besar (PB), bukan semata riuh dengan pembahasan sosok siapa yang pantas atau layak menjadi seorang nahkoda HMI kedepannya. Melainkan jauh daripada itu, forum sangat harus menekankan pada evaluasi kepengurusan sebelumnya, sebagai barometer kepengurusan baru yang akan menapaki jejak baru dalam sebuah bahtera rumah tangga organisasi.

Selanjutnya rekomendasi apa yang akan dibawa pada forum konferensi nanti ? Karena rekomendasi adalah sebuah saran atau masukan yang akan menjadi dasar pijakan dalam kepengurusan baru kedepannya.

Terlebih satu dekade HMI Cabang Lebak saat ini, banyak pihak dalam hingga luar yang menyayangkan tentang kondisinya yang seakan-akan memprihatinkan, sederhananya ada dua keluarga yang tidak saling dukung dalam sebuah rumah. karena kekurang mampuannya sosok ketua umum dalam memanage organisasi serta sentuhan rangkulan pada rekanan pengurus pasca terlaksananya perhelatan konferensi cabang satu tahun silam yang sempat terbelah, bukan malah cenderung membiarkan hingga akhirnya terus tercipta antara satu kubu dengan kubu yang lain terkesan tidak saling mendukung demi kemajuannya sebuah organisasi dengan istilah lain tidak ada harmonisasi pengurus cabang periode 2019-2020.

Rangkaian aksara ini bukan hanya sebatas curhatan saya sebagai kader HMI semata, namun mungkin ini merupakan kondisi terkini dari organisasi ini.

Motif saya untuk menjadi kader HMI adalah satu: Mendapatkan pengetahuan yang mempuni yang tidak saya temukan di kampus tempat saya menimba ilmu. Itu awalnya. Namun, ternyata seiring berjalanya waktu, saya mulai menerima bahwa organisasi tertua ini merupakan salah satu organisasi penyumbang para seniman politik diatas kanvas.

Itu renungan awal yang akan saya tawarkan untuk rekanan yang (masih) aktif di kepengurusan organisasi HMI Cabang Lebak ini.

Jika boleh saya berkata jujur, saya merindukan atmosfer temen-temen sejawat HMI, bukan sekedar menjadi kader kuat secara intelektual dan lihai jika menari di arena pertunjukan demokrasi.

Saya ingin bertanya, apakah HMI Cabang Lebak diusia lebih satu dekade sekarang sudah tepat di khittah-nya sebagai organisasi mahasiswa islam yang berlandaskan intlektual dan bernapaskan Islam ? Saya rasa perlahan-lahan tapi pasti, organisasi ini mulai kehilangan napas akademik, dan cenderung tertutupi oleh nafsu politis, bagaimana tidak ? Masih ada pengurus yang sudah tidak tercatat aktif dua tahun sebagai mahasiswa di perguruan tinggi bahkan seolah dibolehkan oleh pihak panitia untuk mengambil berkas formulir pendaftaran sebagai bakal calon kandidat ketua umum, dan tercatat masih di pertahankan dalam kepengurusan HMI Cabang Lebak itu sendiri. Sehingga banyak dari kader-kader HMI Lebak yang tidak bisa move-on dari rutinitas untuk thowaf kepada kakanda-kakanda hingga simpatisan tercintanya, walupun secara usia sebenarnya mereka sudah masuk kategori uzur untuk bernyaman-nyaman ria di organisasi ini.

Sudah saatnya kakanda-kakanda maupun simpatisan yang terlalu nyaman di HMI Lebak ini untuk terjun dan membuka mata dengan realitas sosial di sekitarnya, bahwa untuk mendapatkan posisi di tengah arena pertempuran yang bernama “demokrasi” kalian harus memenangkan hati para rakyat, bukan mencari sanjungan dari para junior komisariat atau sekedar memanipulasi sistem pemilihan suara kader ditingkat cabang untuk mendukung calon ketua umum, yang kalian anggap memiliki keuntungan untuk modal mendekati elite yang terhormat.

Kita membutuhkan anak muda yang mengerti akar rumput serta memahami konstalasi elit Daerah hingga Negeri, bukan hanya piawai lobi-lobi di gedung pejabat tinggi. Kita butuh pemuda yang membantu petani yang tanahnya digusur oleh perusahaan yang ingin menguasai lahan pribumi secara sepihak.

Lalu apa kabar dengan reformasi di tubuh HMI Lebak diusia satu dekade lebih ?

Hai, para kakanda dan ayunda, sadarkah HMI Lebak, jika diibaratkan sebuah dapur, oraganisasi ini kompornya, yang memasak bahan mentah menjadi bahan jadi itu siapa ? Tapi kalau komporya bermasalah, apakah bisa matang dengan sempurna ? Lantas, apakah organisasi HMI ini akan nyaman dengan platform tua nan usang seperti ini?

Budaya hirarki serta feodalisme tumbuh bagaikan jamur di musim penghujan di tubuh organisasi ini. Apakah perlu ada reformasi ditubuh HMI Lebak ? Saya rasa organisasi ini kulitnya saja seolah-olah pendukung reformasi, namun isinya masih mengikuti budaya Orba yang menghamba. Lalu, apakah seperti ini wajah dari kompor politisi masa depan negeri ? Mau jadi apa Daerah hingga Negeri ini ? Kita membutuhkan anak muda yang mengerti akar rumput serta memahami konstalasi elit Daerah hingga Negeri ini, bukan hanya piawai lobi-lobi di gedung pejabat tinggi. Kita butuh pemuda yang membantu petani yang tanahnya digusur oleh salah satu perusahaan yang ingin menguasai secara sepihak, lalu apa kabar dengan reformasi di tubuh HMI Lebak diusia lebih satu dekade ini?

Celotehan saya sebenarnya merupakan sebuah kegusaran yang saya rasakan sebagai kader HMI Lebak. Yah, walaupun seperti itu bukan maksud saya menjelek-jelekan organisasi ini. Bagaimana pun celotehan kecil saya ini wujud kegusaran yang ada di benak para kader-kader yang kalian anggap ada di seberang jalan (mungkin), yang meledak bagaikan bom atom ketika melihat serta mendengar sebuah pernyataan yang “menjelekan” organisasi HMI Lebak, mungkin bisa disebut sebagai pernyataan politik yang prematur dan tidak memandang hak untuk menyatakan pendapat dan berekspresi. Kemudian, dibarengi dengan aksi komisariat yang ingin memberikan pandangannya terhadap satu semester berjalannya roda kepengurusan HMI Lebak dengan diakhiri reshufflean pengurus namun masih mempertahankan pengurus yang belum mengikuti LK-2 dan menempatkannya sebagai Ketua Bidang terlebih, dan beberapa kali gerudukan seruan masa aksi yang sering disebut sebagai demonstran dan diakhiri dengan bergaining dengan para pihak yang sudah di kritisi.

Apakah kita sebagai seorang kader hanya bisa diam saja ketika isu seperti ini memanas dan membawa stigma negatif terhadap organisasi kepemudaan terbesar di indonesia ini ? Apakah organisasi ini akan menjadi artefak dari sebuah peradaban, dan hanya menjadi ingatan tempoe dulu ketika anak cucu kita besar nanti ?

Di era demokrasi, seharusnya festival seperti ini rutin untuk diselenggarakan agar kita mampu belajar dari sejarah. Ingat pidato dari Bung Karno yang berjudul Jasmerah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah agar kita dapat belajar dari dosa masa lalu.

Miris memang. Saya tidak tahu bagaimana respon dari Lafran Pane sebagai pemerkasa berdirinya organisasi ini. Mungkin ia menangis darah di alam kubur. Sedangkan Nurcholis Madjid hanya geleng-geleng sambil baca istighfar melihat penerusnya di Kabupaten Lebak yang terkesan tidak menunjukan intelektual dan kebebasan berpendapat ini.

Jika HMI Lebak ini bermetamorfosa menjadi partai, mungkin akan seperti parta UMNO di Negeri Jiran dengan kekuatan yang sangat kuat dengan menggunakan satu identitas tertentu sebagai pelekat, dan mungkin bisa saja menjadi representasi partai yang sangat gaduh sebagai penguasa Senayan. Namun, jangan bangga ! Bisa saja menjadi salah satu partai penyumbang penghuni lapas KPK disuatu hari nanti.

Itu hanya pengandaian semata. Lantas, mau kemana arah HMI Lebak jika masih seperti ini?

Hemmm….. Saya pikir, melihat konstalasi politik anak muda sekarang nampaknya harus ada reformasi di tubuh HMI Lebak, sekaligus representasi semangat HMI agar sesuai dengan tuntutan dan situasi negeri. Apakah kita akan terus melanggengkan budaya lobi-lobi yang sarat dari nilai demokrasi itu ? Jujur, selama ini saya merasa sistem seperti ini sangat rawan untuk mendidik patih politik yang jauh dari semangat berdemokrasi.

Memang, perlu rekomendasi dalam forum konferensi cabang kali ini. Tentang reformasi harga mati di tubuh HMI Lebak. (*/Red).