FPK Lebak Antusias Hadiri Seba Baduy 2018

Foto bersama : Sejumlah suku adat yang turut hadir dalam acara Seba Baduy 2018. (Foto/Dok).

LEBAK, – Dalam pagelaran festival budaya Seba Baduy 2018 yang diikuti oleh 1.388 masyarakat suku adat Baduy terdapat pemandangan yang menarik, yakni keikutsertaan sejumlah suku adat lain yang tergabung dalam Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) yang tersebar dari berbagai daerah di Indonesia.

Beberapa suku adat yang hadir dalam Seba Baduy 2018 tersebut, diantranya suku Manado, Madura, Minang, Lampung, dan Etnis Thionghoa. Kehadiran FPK dalam kegiatan tersebut, membuat Seba Baduy tahun ini menjadi lebih menarik, karena mereka hadir dengan mengenakan pakaian adatnya masing-masing.

Adalah Abdurrhosyid, salah seorang anggota FPK Kabupaten Lebak yang menggerakkan kehadiran beberapa suku dan etnis untuk menghadiri Seba Baduy di Pendopo Lebak.

“Kita terdiri dari berbagai suku, namuntetap satu bangsa yaitu Indonesia.” kata Cak  Rosyid.

Menurut pria yang akrab diasapa Cak Rosyid ini menuturkan, pembauran kebangsaan adalah proses pelaksanaan kegiatan integrasi anggota masyarakat dari berbagai ras,suku, etnis, melalui interaksi sosial dalam bidang bahasa, adat istiadat, seni budaya, pendidikan, dan perekonomian untuk mewujudkan kebangsaan Indonesia tanpa harus menghilangkan identitas ras, suku, dan etnis masing-masing dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dari semangat kesatuan dan persatuah itulah dibentuk Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) sesuai dengan amanat Permendagri nomor 34 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pemabauran Kebangsaan di Daerah.

“Tugas FPK antara lain menjaring aspirasi masyarakat di bidang pembauran kebangsaan; menyelenggarakan forum dialog dengan pimpinan organisasi pembauran kebangsaan, pemuka adat, suku, dan masyarakat, menyelenggarakan sosialisasi kebijakan yang berkaitan dengan pembauran kebangsaan, serta merumuskan rekomendasi kepada penanggung jawab FPK di wilayahnya,” jelas Cak Rosyid.

Masih kata Rosyid,  FPK di Lebak sering menggelar seminar dan diskusi terkait wawasan kebangsaan. Karena FPK menjadi wadah informasi, komunikasi, konsultasi, dan kerjasama antara warga masyarakat yang diarahkan untuk menumbuhkan, memantapkan, memelihara dan mengembangkan pembauran kebangsaan.

“Maksud didirikannya Forum Pembauran Kebangsaan ini agar terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun, aman dan damai, dan dapat mencegah masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dengan kekerasan yang bersifat keagamaan, sehingga tercipta kerjasama yang positif antar ras, suku, budaya dan adat istiadat yang dilandasi oleh toleransi, saling pengertian, menghormati, dan saling menghargai,” katanya.

Peran Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) tidak kecil. Karena FPK merupakan bagian dari pembinaan dan pembangunan kemasyarakatan dalam menciptakan keamanan suku-suku.Selain itu, kata dia, forum itu mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang Pemda dalam membina dan memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat terhadap kemungkinan timbulnya ancaman keutuhan bangsa di daerah. (Yusup).