Demi Sekolah, Siswa di Cilebu Rela Berjalan Kaki Sejauh 10 Kilometer

Sejumlah siswa SD, SMP dan SMA Satap rela berjalan kaki sejauh 5 kilometer melewati jalan setapak saat pulang sekolah di Pasir Haur, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Kamis 11/01 kemarin, (Foto/Deni).

LEBAK – Sejumlah siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah di dusun terpencil di Desa Pasir Haur, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak rela berjalan kaki sejauh 10 kilometer melewati hutan dan pesawan untuk sekolah.

Berjalan kaki sejauh puluhan kilometer sudah menjadi kebiasaan anak-anak kampung Cilebu yang terletak di kaki gunung Endut saat berangkat ke sekolah.

Sekolah tempat mereka belajar berjarak 5 kilometer dari kampung Cilebu. Sehingga mereka harus berjalan kaki sekitar 10 kilometer pulang pergi setiap mereka sekolah.

Berjalan kaki sejauh 10 kilometer pulang pergi sekolah, terkadang harus istirahat sejenak ditengah perjalanan untuk sekedar melepas lelah.

Untuk sampai ke sekolah tersebut, sejumlah siswa dari Kampung Cilebu harus rela berjalan kaki melewati hutan dan pesawahan yang merupakan akses satu-satunya menuju sekolah terdekat.

Baca juga :
Kades Pasir Haur, Resmikan Cilebu Jadi Kampung Wisata
Cilebu, Negeri di Atas Awan yang Tersembunyi di Lebak
Kampung Cilebu, Negeri Kincir Angin yang Ada di Lebak

“Jam enam pagi kami harus sudah berangkat dari rumah. Melewati hutan dan sawah,” kata Gugun Gunawan siswa kelas 6 SD Pasir Haur, saat ditemui Orbit Banten di tengah perjalanan sepulang dari Sekolah, Kamis (11/01) kemarin.

Katanya, tidak semua anak-anak di kampung Cilebu sekolah, selain faktor jarak yang jauh antara rumah ke sekolah, juga karena faktor ekonomi.

“Yang sekolah cuma 12 orang doang. Kebanyakan disini (Kampung Cilebu,-red) cuma sampe lulus SD,” tutur Gugun.

Penduduk di Kampung Cilebu, Desa Pasir Haur mayoritas bekerja sebagai petani, Kampung yang terletak di bawah kaki gunung Endut ini berada 1300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Mereka mengandalkan hasil perkebunan cengkih dan hasil hutan lainya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Mayoritas penduduk disini bekerja sebagai petani. Sebetulnya kami juga ingin anak-anak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi,” kata Yahya salah seorang penduduk Kampung Cilebu. (Deni).