ASAK Desak Kejari Lebak Tahan Tersangka Pemalsuan Sertifikat Tanah

Aliansi Sahabat Keadilan (ASAK) saat menggelar aksi unjuk rasa menuntut penahanan tersangka kasusu dugaan pemalsuan sertifikat tanah di depan kantor Kejari Lebak. (Foto/Deni).

LEBAK,- Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Sahabat Keadilan (ASAK) Kabupaten Lebak menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Lebak, Kamis (7/11/2019).

Dalam aksinya, ASAK mendesak pihak Kejari Lebak agar melakukan penahanan terhadap Ajat Sudrajat, sebagai tersangka dugaan pemalsuan sertifikat tanah.

“Ini baru surat tanah, bagaimana dengan surat lainnya. Jika kasus ini tidak diselesaikan dengan baik, akan ada lagi pemalsuan dokumen-dokumen lain. Kami minta segera panggil tersangkanya. Kami sedih ketika hukum mulai digadaikan, kami sedih ketika hukum powernya hilang,” kata Nurul Ahmad, dalam orasinya di depan kantor Kejari Lebak, Kamis (7/11/2019).

Koordinator aksi, Azis menegaskan bahwa aksi yang dilakukan oleh ASAK adalah aksi damai untuk mendorong dan menuntut pihak Kejari Lebak segera menyelasaikan kasus dugaan pemalsuan sertifikat tersebut.

“Berkasnya sudah lengkap dan P21 di Kejaksaan. Tapi sampai saat ini tidak ada tindak lanjut dan kejelasan. Kami juga menerima banyak informasi bahwa tersangka masih berkeliaran di luar,” tukas Azis.

Tersangka Ajat Sudrajat yang juga diketahui sebagai bos toko material dan pemilik penginapan Sare’at di Kecamatan Bayah ini sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemalsuan sertifikat pasca penyerahan berkas perkara P21 tahap kedua oleh penyidik Kepolisian kepada Kejari Lebak, kemarin. Tapi Kejari Lebak tidak melakukan penahanan kepada tersangka.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Lebak Tb Taufik Munggaran membenarkan, bahwa pada hari Rabu (6/11/2019) sore, pihaknya telah menerima penyerahan tersangka.

“Tersangka atas nama Ajat Sudrajat disangkakan Pasal 242 ayat 1 atau 266 tentang sumpah palsu dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun. Betul yang bersangkutan pada tahap penyelidikan tidak dilakukan penahanan,” kata Taufik.

Ia menjelaskan, alasan Jaksa Penuntut Umum tidak melakukan penahanan karena tersangka dalam keadaan sakit berkepanjangan.

“Alasan ke-dua karena ada penjamin yakni dua orang adik tersangka. Selanjutnya, tersangka tidak akan menghilangkan barang bukti dan tersangka bukan DPO di kita (Kejari),” ujarnya.

Lebih lanjut Kasi Pidum mengatakan, bahwasannya tersangka dilaporkan oleh mantan istrinya atas dugaan sumpah palsu dihadapan Pejabat berwenang di BPN. Dimana tersangka telah mengurus pembuatan sertifikat baru atas tanah yang ternyata sudah bersertifikat atas nama istrinya.

“Jadi terlapor dari mantan istrinya, rebutan harta gonogini. Untuk perkaranya masuk tahap penuntutan, sedangkan untuk pelimpahan ke pengadilan pekan depan,” imbuhnya. (Deni).