Anggota Dewan Tuding Adanya Mafia Corona di RSUD dr. Adjidarmo 

RSUD Dr. Adjidarmo, Rangksbitung

KABUPATEN LEBAK,  ORBITBANTEN.CO.ID – Anggota DPRD Lebak Bangbang Sp menuding adanya oknum yang bermain sebagai mafia yang melakukan penggiringan terhadap pasien positif virus covid-19 atau corona di RSUD Dr. Adjiarmo Rangkasbitung. Tudingan tersebut berdasarkan adanya kejanggalan terhadap pelayanan yang diberikan pihak rumah sakit dengan menempatkan seorang pasien dengan diagnosa diabetes dan maag kronis diruang isolasi pasien positif covid-19.

Pasien tersebut diketahui merupakan Hj. Itin (60) warga Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, yang tidak lain merupakan Ibu kandung Bangbang sendiri.

“Ibu saya yang sedang mengalami maag kronis dan diabetes, dirawat oleh pihak rumah sakit di ruang isolasi pasien positif covid-19, tentunya saya sangat keberatan karena Ibu saya non reaktif covid,” kata Bangbang kepada awak media, Kamis (1/10/2020).

Bangbang mengungkapkan, kejanggalan muncul, saat ibu nya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis di RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung, pada Minggu (27/9/2020). Sebelum memasuki ruang perawatan, Ibunya terlebih dahulu menjalani tahapan screening covid-19 dengan cara rapid test dan swab test. Pada tahapan screening tersebut, hasil dari rapid test ibunya menunjukan hasil non reaktif, sementara hasil dari swab test baru akan keluar 7 hari setelah test.

Namun, dengan hasil rapid test negatif tersebut, Hj. Itin justru dibawa ke ruang isolasi pasien positif covid-19 di RSUD Dr. Adjirdarmo, dan pihak keluargapun diminta menandatangani surat pernyataan ketersediaan isolasi.

“Awalnya saya tolak untuk menandatangani surat tersebut, karena didalam surat tersebut terdapat dua poin yang saya kira merugikan yang berbunyi pasien tidak akan mendapatkan perawata ICU jika kondisinya memburuk, dan jika meninggal dunia maka pasien dikuburkan dengan protokol pasien covid. Namun, jika saya tidak setujui pihak rumah sakit mengatakan pasein tidak akan mendapatkan perawatan secara maksimal, sehingga saya menyetujui Ibu saya dirawat diruang isolasi,” ungkapnya.

Bangbang mengatakan, dirinya mengaku kecewa dengan fasilitas yang tidak memadai dari ruang isolasi tersebut. Katanya, diruang isolasi tersebut, Ibunya yang satu kamar dengan pasien kritis hanya difasilitasi dengan kipas angin saja, tidak dengan Ac sehingga menyebabkan ruangan tersebut pengap udara.

“Pasien kritis dipaksa untuk berada diruangan yang pengap, ini sangat memperihatinkan. Apalagi, jika kondisinya memburuk pasien tidak diperkenankan untuk mendapatkan perawatan ICU, dengan alasan keterbatasan fasilitas,” katanya.

Ia menduga, hal tersebut sengaja dilakukan oleh pihak rumah sakit agar pihak rumah sakit bisa menklaim dana bantuan yang dikocorkan oleh Kementrian Kesehatan untuk setiap perawatan pasien positif covid-19. Untuk itu, dirinya bersitegas akan melaporkan hal tersebut kepada pihak kepolisan.

“ Ini sangat disayangkan, untuk itu saya akan giring hal ini ke ranah hukum. Karena saya khawatir hal ini akan dialami oleh masyarakat lainnya,” tegasnya.

Sementara itu, Humas RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung Budi Kuswandi mengatakan, penempatan pasien atas nama Hj. Itin diruang isolasi tersebut dilakukan berdasarkan hasil rongsen yang dilakukan terhadap pasien yang diduga ada indikasi covid-19 pada paru-paru pasien. Untuk itu, pasien akan menjalani perawatan diruang isolasi terlebih dahulu hingga hasil swab test keluar. Katanya, pihaknya juga telah berupaya untuk mencarikan rumah sakit rujukan terhadap pasien jika kondisi pasien kian memburuk.

 

“Walaupun hasil rapidnya non reaktif tetapi belum bisa menentukan negatif covid. Maka kami lakukan swab dua kali, dan dengan mempertimbagkan indikator klinis lainnya seperti hasil rongsen, dokter  spesialis memuturskan agar pasien mendapatkan perawatan diruang isolasi,” katanya.

Dirinya tidak menepis jika fasilitas yang berada diruang isolasi sangat kurang memadai, hal tersebut dikarenakan ruang isolasi tersebut bersifat kedaruratan, yang tidak diprediksi sebelumnya. Namun, Ia membantah pihak rumah sakit melakukan penggiringan agar mendapatkan klaim biaya penangganan pasien covid-19. Ia juga tidak melarang jika pihak keluarga yang merupakan anggota DPRD Lebak ini melaporkan hal tersebut kepada pihak kepolisian.

“Insyallah, tidak ada yang seperti itu. Buat apa gitu-gituan, karena kita juga (tenaga kesehatan) yang paling beresiko terpapar covid-19. Tentunya kita akan terus melakukan upaya yang terbaik,” pungkasnya.

(*/Red)